Minggu, 04 November 2012

Bidadari itu Memilih menjadi Badut

Ditengah hiruk pikuk wisuda, mataku melihat sekitar kebahagiaan masing-masing orang dan dandanan yang beraneka ragam. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh shei "Ukht, sini deh dengerin kak Winda mau ngasih tausiyah", aku langsung membalikan badan mengarah kak winda. Kak Winda adalah seorang akhwat siyasih yang baru menikah beberapa bulan yang lalu, orangnya tegas, masih ku ingat ketika hari dia menikah seolah ada hijab antara dia dan orang yang baru resmi menjadi suaminya. Sebenarnya umurku hanya beda satu tahun dari dia.

"Tadi kakak dapet laporan nih, katanya di kampus banyak badut" aku makin serius memandang kak winda, tak sabar menunggu kalimat selanjutnya. "disini terlihat jelas dek komitmen para akhwat, mereka yang "bidadari" akhirnya kalah dan memilih menjadi badut, kembali lagi pada komitmen tabarruj perlu dipertanyakan". Langsung flash back ke masa lalu, saat wisuda waktu itu, akupun tak terlalu tegas ketika mama memaksaku untuk berdandan. Meski pada akhirnya aku mendapat cara menghapus segala pernak pernik dimukaku. Kena omel sih sama mama, tapi entahlah aku cukup risih dengan hal itu. 

Kembali pada cerita kak Winda. Komitmen. Iya ya, bukankah komitmen itu bisa diuji ketika kondisi terjepit. Ah, betapa banyak akhwat yang rela berhenti dari kerjaanya karena tak ingin melepas jilbabnya, atau perjuangan akhwat-akhwat yang lain. Lha, sekedar mempertahankan dari omelan orang tua, sulitkah? Apa guna ilmu komunikasi dan lobi-lobi diajarkan di jalan ini, jika hal itu justru tak bisa digunakan untuk kemaslahatan nilai-nilaiNya. 

Atau jangan-jangan, kombinasi hati yang kotor dan desakan yang sedikit, meruntuhkan nilai prinsip dengan mengubah dalihnya. Sehingga tantangan kecil menjadi begitu besar ketika dihadapkan dengan hati yang kotor. Astagfirullah. Mari kembali berkomitmen untuk tidak Tabarruj, apapun itu! Akhwat itu mahal, bukan untuk di obral! Waspada!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Disqus for harus memulai