Tampilkan postingan dengan label Tamparan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tamparan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Agustus 2012

Fatal!

Bismillah
#tamparan hati, yang hampir terlelap!

Kalau galau melanda, jiwa mulai terombang ambing, kecewa sana-sini. Mau menghilang, bosen, dan lain sebagainya itu artinya niat mulai bengkok.

Kecewa, kata yang sangat mudah diucapkan dan rasa yang sangat mudah dirasakan oleh mereka yang mudah larut dalam perasaan. (termasuk aku ?)

Namun tentu saja, larut tak boleh berkepanjangan, bengkok mesti diluiruskan. Bukankah itulah tugas kita, senantiasa memperbaiki diri hingga mampu tampil dengan performance terbaik dihadapanNya kelak. Kecewa itu biasanya mulai timbul saat salah pengharapan, salah tujuan, atau tergelincirnya niat tanpa sadar. Contoh tergelincirnya niat namun tak sadar, saat pengharapan lagi tak lagi tertuju FULL padaNya. Saat niat mulai tersusupi sedikit demi sedikit pada pengharapan selainNya. Saat kepentingan dunia lebih diminati daripada panggilanNya, saat kematian tak lagi menjagi standar cerdas setiap insan. Benar, mereka yang cerdas bukanlah yang pandai dalam segala bidang, atau mempunyai gelar panjang dibelakang nama, bukan!! mereka yang cerdas adalah mereka yang mengingat pemutus kenikmatan yaitu KEMATIAN.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kematian pasti akan mendatangi, kapan? Wallahu a'lam. Tobat dari melalaikan perintahNya, tobat dari merusak hubungan sesama manusia dengan lisan yang salah. Karena tentu saja, tiap perbuatan akan dipertanggung jawabkan. Bukan seberapa bagus pemberianNya, tapi seberapa mampu kita mempertangungjawabkannya.

:)
Tetap semangat!

kata ust Rahmat Abdullah pada adeknya awi : Jangan ayam doank yang lu kandangin, kandangin juga nafsu lu!

Allahu akbar!

Sabtu, 28 Juli 2012

Karena batas akhirnya bukan Sabar

Karena batas akhirnya bukan Sabar, kawan!
Melainkan dilanjutkan dengan tindakan setelah sabar, karena sabar itu bukan berarti diam, sabar itu bukan berarti menangis berpanjangan, melirik masa lalu kemudian menginginkannya kembali.Sabar itu bukan lemah, melihat dengan mudahnya seseorang menghancurkan berkeping-keping semangat yang telah dibangun sedemikian rupa. Sabar bukan berarti diam, saat puzzle kepingan hati yang di satukan justru dipatahkan oleh lisan-lisan yang tidak bertanggung jawab. Sabar itu, bukan membiarkan pos yang telah diamanahkan dihancurkan oleh orang yang mementingkan kepentingan pribadi saja. 

Jiwa ini memang dijual sepenuhnya padaNya, tentu bersama segala konsekuensinya. Tapi, batas akhirnya bukan sabar, kawan!
Jika sabar berada diatas sabar, maka tunggulah aksi atas dasar sabar.

Perhatikan yang terjadi setelah aku lelah menangis/
Then, keep stay cool :-)
 

Loe Gue END! (ga nyambung)

"loe akan tau orang yang loe anggep temen slama ini,  sebenarnya bukan temen loe, dari hal seperti ini dek"


Seorang kakak keluarga lingkaran baru ku ini benar-benar mengagetkan. Dengan gaya macho ala akhwat, kata-katanya cukup menghujam ke jantung. Orang yang kuanggap awalnya cuek dan agak susah didekati ini, justru membuatku ingin mengenal banyak tentangnya. Memang benar yang lembut belum tentu lembut, yang baik belum tentu baik. Posisi, benar-benar tidak menjamin kematangan seseorang dalam pemahaman. Itulah mengapa aku mulai trauma melihat & menilai sesuatu itu hanya dengan mata.

Kata-kata kakak ini agaknya pas dengan keadaan sekarang, meski dengan versi beda. Karena memang kami tidak sedang membahas masalahku. Hubungannya adalah watak. Dari kesulitan dimanapun, yang paling mudah ditemui adalah pendalaman watak seseorang. Konflik, masalah, kesulitan, kesusahan, agaknya menjadi sarana yang pas untuk menguji hati-hati yang ikhlas. Agaknya menjadi sarana yang sangat baik, melihat perbedaan telak antara tahu dan paham.

Semua terlihat jelas, orang-orang yang bergerak karena kesenangan saja dengan mereka yang melakukannya karena merasa bertanggung jawab. Tentu saja, kualitas terlihat jelas disini. Bersyukur, karena disinilah kutemukan mereka. & kutemukan lagi beberapa jiwa-jiwa yang "pantas dirindukan" kelak.

Kata-kata yang menyakitkan sepertinya sudah menjadi hal biasa & harus terbiasa untuk didengar, keluhan, menghindar, ataupun kalimat-kalimat "prasangka" lainnya.

Seseorang pernah berkata padaku "udah nikmatin aja, sesak itu, tangis itu, kelak akan kamu rindukan", & akhirnya aku paham, mengapa orang-orang hebat terdahulu menjadikan kematiannya sebagai istirahat.

Baiklah, mari nikmati sekolah kesabaran ini hingga selesai, mempelajari watak-watak. Semoga jika tiba saatnya, diberi Allah kenikmatan istirahat panjang dlm cintaNya, aamiin :-)

Semangat karena Allah! Mati itu jika harapan kita disandarkan kepada selainNya. 
Belajar untuk tidak tertipu, dengan orang-orang yang hanya memanfaatkan "kedekatan" untuk kepentingan pribadi dengan dalih "bersama" :)

Minggu, 22 Juli 2012

masih tilawah kan ukht?

Bismillah,
Menulis berdasarkan pengalaman pribadi, untuk jadi motivasi dan pecutan diri, menjadi lebih baik ditiap bilangan hari.

Terinspirasi dari pertanyaan seseorang "tapi kamu masih tilawah kan ukht?". Sebuah pertanyaan dari orang dibelakang telepon itu mengagetkanku. Bukan hanya sekali pertanyaan itu dia tujukan padaku. Namun itu muncul saat kondisiku mulai riuh dengan kegalauan, saat gelisah atau ngelantur tak berarah. Lalu aku mulai menganalisis, kata-kata kreatif tentu tak boleh dilewatkan begitu saja, tanpa paham maknanya.Karena memang benar jawaban dari pertanyaan orang itu adalah "ya, tapi jauh dari target"(menjawab dengan perasaan bersalah).

Minggu, 06 Mei 2012

Mengapa jadi kau yang memilih?

Sejarah Status: oleh Tikha, untuk Tikha

Nasehat ini dariku untukku hari ini, esok dan seterusnya, & barangkali kelak bisa jadi nasehat untuk orang lain…

Terkadang kita sering aneh dalam persepsi, menyalahkan orang lain ketika kita ditimpa masalah. Memberatkan orang lain ketika kita ditimpa kemalangan. Lebih-lebih, kita sering memilih wasilah yang dating dariNya untuk mengulurkan tangan menghapus duka dari masalah kita tersebut.

Padahal Laa yukalifullahu nafsan illa wus-aha , setiap kita diuji tidak melebihi batas kemampuan kita. Artinya. Pertama, bahwa, mau tidak mau kita mampu menyelesaikan masalah yang ditimpakan kepada kita. Kedua, sebenarnya yang ditimpa masalah ini tidak hanya kita, tapi juga orang lain, juga orang yang kita tunggu-tunggu untuk membantu kita (baca=kita request menjadi wasilahNya untuk membantu kita).

Disqus for harus memulai